Educational Leadership
Educational Leadership yang saya hidupi berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan adalah ruang tanggung jawab moral, bukan sekadar aktivitas teknis pengajaran. Kepemimpinan pendidikan saya bertumpu pada pendekatan human-centered, yang menempatkan manusia—peserta didik dan pendidik—sebagai subjek utama proses belajar, bukan sekadar objek kebijakan atau sistem.
Pengalaman formasi nilai, keterlibatan lintas konteks, serta praktik mengajar di wilayah dengan keterbatasan akses membentuk cara pandang saya dalam memimpin. Kepemimpinan tidak saya pahami sebagai posisi struktural, melainkan sebagai kemampuan menghadirkan arah, makna, dan harapan di dalam ruang belajar. Dalam praktiknya, hal ini diwujudkan melalui keteladanan etis, keberanian mengambil keputusan berbasis nilai, serta keberpihakan pada mereka yang paling terdampak oleh ketimpangan pendidikan.
Dalam konteks Nusa Tenggara Timur, Educational Leadership saya terwujud melalui pendampingan guru, penguatan budaya refleksi, dan penciptaan iklim pembelajaran yang memberdayakan. Saya berupaya memastikan bahwa setiap inovasi, metode, dan kebijakan pembelajaran tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga adil secara sosial. Peserta didik dipandang sebagai individu yang memiliki potensi, martabat, dan konteks hidup yang harus dihormati, sementara guru diposisikan sebagai mitra pembelajar yang perlu diperkuat kapasitas dan kepercayaan dirinya.
Kepemimpinan ini juga ditandai oleh kemampuan menjembatani idealisme nilai dengan realitas lapangan. Dalam keterbatasan infrastruktur dan sistem, saya mengarahkan praktik pendidikan untuk tetap relevan, kontekstual, dan berkelanjutan. Dengan demikian, Educational Leadership bukan hanya tentang mengelola proses belajar, tetapi tentang membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan daya kritis, solidaritas, dan harapan—terutama di ruang-ruang pendidikan yang selama ini berada di pinggiran sistem.