2020 | Kupang, Nusa Tenggara Timur
Pada tahun 2020, di awal perjalanan saya sebagai guru baru di SMAK Giovanni Kupang, saya mendapat kepercayaan untuk mendampingi mahasiswa Program Pengalaman Lapangan (PPL) dari STIPAS KAK Kupang. Selama beberapa bulan, saya terlibat langsung dalam proses pendampingan empat orang mahasiswa yang sedang menjalani tahap awal formasi profesional mereka sebagai calon pendidik.
Kepercayaan ini memiliki makna tersendiri, mengingat pada saat itu saya sendiri masih berada pada fase awal sebagai pendidik profesional. Namun justru di titik inilah saya belajar bahwa kepemimpinan pendidikan tidak selalu ditentukan oleh senioritas, melainkan oleh kesiapan untuk berbagi praktik, merefleksikan pengalaman, dan menghadirkan keteladanan dalam keseharian mengajar.
Pendampingan PPL saya maknai sebagai proses pembelajaran dua arah. Bersama para mahasiswa, saya mendiskusikan perencanaan pembelajaran, strategi mengelola kelas, serta cara membangun relasi edukatif dengan peserta didik. Refleksi atas praktik mengajar menjadi pendekatan utama, sehingga setiap pengalaman lapangan tidak berhenti sebagai rutinitas, tetapi menjadi sumber pembelajaran profesional.
Pengalaman ini mempertegas keyakinan saya bahwa pendampingan mahasiswa bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik, melainkan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia pendidikan. Para mahasiswa yang saya dampingi kini telah berproses menjadi guru dan pemimpin di ruang-ruang pengabdian mereka masing-masing, berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.
Bagi saya, pengalaman mendampingi mahasiswa PPL di awal karier ini menjadi fondasi penting dalam membentuk kompetensi mentorship yang saya hidupi hingga hari ini. Ia mengajarkan bahwa dampak pendidikan sering kali tidak langsung terlihat, tetapi bertumbuh dalam perjalanan waktu—melalui orang-orang yang pernah kita dampingi dan percayai.