Inovasi pembelajaran harus berangkat dari konteks, bukan dari tren.

Learning Innovation merupakan kompetensi inti saya dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran yang berangkat dari analisis konteks nyata peserta didik. Kompetensi ini terbentuk melalui pengalaman langsung mengajar dan mendampingi pembelajaran di wilayah dengan keterbatasan sumber daya, di mana pendekatan konvensional sering kali tidak efektif. Inovasi pembelajaran yang saya kembangkan tidak berbasis adopsi metode populer, melainkan pada penyesuaian tujuan, strategi, dan aktivitas belajar dengan kondisi sosial, budaya, dan struktural yang dihadapi peserta didik dan pendidik.

Yang membedakan kompetensi ini dari praktik inovasi pembelajaran pada umumnya adalah titik berangkatnya. Inovasi tidak dimulai dari teknologi, kurikulum, atau model yang sudah jadi, tetapi dari pemetaan masalah pembelajaran di lapangan. Pendekatan ini menghasilkan desain pembelajaran yang sederhana namun fungsional, mudah diterapkan, dan relevan dengan realitas lokal. Dengan demikian, inovasi tidak bersifat eksperimental atau temporer, tetapi berkelanjutan dan dapat direplikasi dalam konteks serupa.

Kompetensi Learning Innovation menjadi penting karena kesenjangan kualitas pendidikan di daerah tertinggal sering kali bukan disebabkan oleh ketiadaan kurikulum, melainkan oleh ketidakselarasan antara desain pembelajaran dan kondisi nyata peserta didik. Melalui inovasi yang kontekstual, pembelajaran dapat tetap bermakna, efektif, dan berdaya ubah, meskipun berada dalam keterbatasan struktural.