21 Oktober 2022
(Catatan Pelatihan di SMA Seminari Santu Rafael Kupang)
Tekad mencapai puncak selalu beriringan dengan perjuangan melawan lupa—lupa bahwa aku ini, meminjam kata Chairil Anwar, binatang jalang dari kumpulan yang terbuang. Ungkapan ini bukan penghinaan terhadap martabat manusia, melainkan peringatan keras agar manusia tidak terjebak dalam ilusi kesempurnaan diri.
Sungguhpun hidup ini teramat singkat, perjuangan manusia sejatinya adalah perjuangan akal budi melawan kebinatangan dalam diri yang terus mengintai. Manusia memang binatang, tetapi binatang yang dianugerahi akal budi. Di situlah letak pertaruhannya: apakah kita memilih hidup sekadar mengikuti naluri, ego, dan kenyamanan, atau sungguh-sungguh menghidupi akal budi—berpikir, merefleksi, dan bertanggung jawab.
Pada tanggal 21 Oktober 2022, saya berkesempatan memberikan pelatihan bagi para guru dan para seminaris di SMA Seminari Santu Rafael Kupang. Pertemuan ini bukan semata-mata ruang transfer pengetahuan atau peningkatan kompetensi teknis, melainkan ruang perjumpaan reflektif tentang makna menjadi pendidik dan calon pemimpin Gereja serta bangsa.
Dalam dunia yang bergerak cepat, di tengah tuntutan prestasi, target, dan pencapaian, kita sering lupa bahwa pendidikan pada dasarnya adalah usaha memanusiakan manusia. Guru dan seminaris dipanggil bukan hanya untuk menjadi cerdas, terampil, dan unggul, tetapi terlebih untuk menjadi pribadi yang sanggup menaklukkan kebinatangan dalam diri: kesombongan, kemalasan berpikir, kekerasan verbal, dan ketidakpedulian.
Saya menegaskan kepada para peserta pelatihan bahwa kita hanya diberi satu kesempatan dalam hidup ini: menjadi sungguh-sungguh binatang—yang hidup dari dorongan naluri semata—atau menjadi sungguh-sungguh manusia yang berakal budi. Pilihan itu hadir setiap hari, dalam cara kita mengajar, mendidik, mendampingi, dan mengambil keputusan kecil sekalipun.
Hidup tetaplah hidup. Perjuangan mestilah perjuangan. Namun perjuangan yang bermartabat selalu berakar pada kesadaran diri: bahwa kita ini rapuh, terbatas, dan mudah tergelincir. Justru dari kesadaran itulah lahir kerendahan hati untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan setia pada panggilan sebagai pendidik.
Pelatihan ini menjadi pengingat bersama bahwa pendidikan bukan sekadar jalan menuju puncak prestasi, melainkan jalan panjang merawat akal budi—agar manusia tidak kehilangan dirinya sendiri di tengah hiruk-pikuk dunia.