April 2022
Pada bulan April 2022, saya berkesempatan bertemu Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, di sela-sela safari literasinya. Beliau sedang berkeliling ke seantero Indonesia untuk menyuarakan kabar baik tentang literasi dan menginspirasi anak-anak, guru, serta pegiat literasi di berbagai daerah.
Meskipun sedang menunaikan ibadah puasa, semangat beliau tidak surut sedikit pun. Di hadapan anak-anak Taman Baca Cakrawala di Tilong, beliau bercerita, berbagi pengalaman, dan menularkan kegairahan membaca. Bagi saya, pertemuan ini adalah contoh nyata teladan dan nilai ibadah yang sesungguhnya: ketika seseorang membaktikan seluruh jiwa dan raga untuk mencerdaskan anak bangsa, di sanalah makna ibadah yang sejati terwujud.
Saya mengamati garis wajah beliau yang menunjukkan lelah, keringat yang menetes tak berhenti, namun tidak memadamkan semangatnya. Kesungguhan itu mengingatkan saya bahwa literasi bukan sekadar membaca dan menulis, tetapi misi untuk membuka dunia dan mengubah kehidupan melalui kata-kata dan pengetahuan. Saya pun sempat mengabadikan momen berharga ini dengan foto bersama beliau, sang pejuang literasi, yang bagi saya bukan sekadar duta baca, melainkan rasul literasi yang membaktikan diri untuk mendorong kualitas pendidikan Indonesia.
Selain bertemu Gol A Gong, pada kesempatan itu saya juga berjumpa dengan para pegiat literasi lainnya—orang-orang hebat yang membaktikan hidupnya untuk memberikan arti pada kata, tulisan, dan pengetahuan. Bersama mereka, saya menyadari bahwa gerakan literasi bukan hanya aktivitas individu, tetapi kerja kolektif yang menggerakkan perubahan sosial. Dari Tilong, pesan yang saya bawa pulang jelas: literasi adalah jembatan untuk membentuk generasi yang cerdas, kritis, dan penuh empati, dan setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki dampak yang nyata bagi masa depan anak-anak bangsa.
Pertemuan ini menjadi pengingat bagi saya bahwa mengembangkan literasi bukan hanya soal membagikan buku, melainkan menyalakan api semangat belajar, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan membentuk karakter melalui kata dan narasi. Di tangan para pegiat literasi, masa depan pendidikan Indonesia semakin terang, dan anak-anak yang selama ini terseok-seok di lorong-lorong sunyi literasi memperoleh kesempatan untuk menatap dunia dengan mata penuh harapan.