Literasi sebagai Jalan Pembebasan Pendidikan NTT

23 Januari 2022

Pada 23 Januari 2022, pukul 21.20 WITA, saya berkesempatan menjadi pembicara dalam dialog tentang Gerakan Literasi NTT di Stasiun Radio RRI. Diskusi malam itu menjadi ruang refleksi sekaligus seruan bersama untuk menempatkan literasi sebagai fondasi utama dalam membicarakan masa depan pendidikan di Nusa Tenggara Timur.

Mendiskusikan pendidikan NTT tidak bisa dilepaskan dari gerakan literasi. Literasi memiliki daya dorong yang sangat kuat dalam meningkatkan kualitas pendidikan, baik secara nasional maupun secara khusus di NTT. Fakta bahwa sejak tahun 2000 hingga hari ini Indonesia masih berada pada peringkat bawah dalam Studi PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukkan bahwa persoalan pendidikan bukanlah persoalan kecil, melainkan persoalan struktural yang membutuhkan perhatian dan evaluasi serius.

Sebagai bentuk evaluasi dan ikhtiar perbaikan, sejak tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendorong Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang berfokus pada penguatan enam literasi dasar: literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. Gerakan ini menegaskan bahwa literasi bukan hanya soal kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan berpikir, memahami, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab dalam kehidupan.

Namun, harus diakui bahwa di NTT, gerakan literasi sering kali masih terasa seperti berjalan di lorong yang sunyi dan sepi. Gambaran ini dengan jujur disampaikan oleh Gusty Rikarno dalam bukunya Hanya Pikiran yang Tidak Pernah Tua. Melalui buku tersebut, Gusty merekam perjalanannya menyusuri lorong panjang literasi NTT—sebuah perjalanan yang penuh tantangan, tetapi juga sarat harapan.

Bersama Media Pendidikan Cakrawala (MPC) NTT, Gusty menunjukkan komitmen untuk terus menggerakkan literasi di NTT dengan merangkul sebanyak mungkin pegiat literasi. Upaya ini bukan sekadar gerakan individual, melainkan ajakan kolektif untuk bersinergi dan berkolaborasi demi membangun NTT yang cerdas dan berkarakter.

Bagi saya, dialog di RRI malam itu menegaskan satu hal penting: literasi adalah jalan pembebasan pendidikan. Melalui literasi, peserta didik tidak hanya diajak untuk mengetahui, tetapi untuk memahami; tidak hanya belajar, tetapi bertumbuh; tidak hanya mengejar prestasi, tetapi membangun jati diri. Jika NTT ingin melompat jauh dalam kualitas pendidikan, maka literasi harus ditempatkan sebagai gerakan bersama—hidup di sekolah, di rumah, dan di ruang-ruang publik.

Gerakan literasi bukan sekadar program, melainkan sikap hidup. Dan dari sikap hidup itulah, masa depan pendidikan NTT dapat ditata dengan lebih bermartabat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *