Melukis Wajah Bangsa dari Ruang Kelas

22 Januari 2022

Pada 22 Januari 2022, saya berkesempatan menjadi pembicara dalam kegiatan bedah buku Kisah Para Pelukis Wajah Bangsa: Kumpulan Artikel Ilmiah Populer Para Guru Sekolah Swasta Kota Kupang. Kegiatan ini bukan sekadar forum akademik, melainkan ruang apresiasi dan refleksi atas praktik pendidikan yang lahir dari komitmen para guru.

Buku Kisah Para Pelukis Wajah Bangsa menghadirkan kumpulan tulisan para guru yang merekam strategi, pendekatan, dan terobosan pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Di tangan para guru, kata demi kata tidak berhenti sebagai wacana, melainkan menjelma menjadi komitmen untuk memikirkan, merancang, dan menyajikan model pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik. Tulisan-tulisan ini lahir dari proses berpikir yang reflektif dan praksis yang nyata di ruang kelas.

Para guru penulis dalam buku ini memperlihatkan kemampuan berpikir efektif dalam menemukan berbagai tips dan strategi pembelajaran yang mampu menyentuh peserta didik serta mendorong mereka untuk belajar dan meraih prestasi. Inovasi yang ditawarkan tidak bersifat abstrak, melainkan berangkat dari pengalaman konkret menghadapi tantangan pembelajaran sehari-hari. Di sinilah nilai utama buku ini terletak: pada keberanian guru untuk merefleksikan praktiknya dan membaginya sebagai pengetahuan publik.

Karena itu, tulisan-tulisan dalam buku ini layak diapresiasi bukan semata-mata karena telah dibukukan, tetapi terutama karena lahir dari komitmen untuk merawat dan melestarikan kehidupan anak-anak bangsa. Para guru ini sejatinya tidak hanya menulis tentang apa yang terjadi di dalam kelas. Melalui tulisan-tulisan mereka, para guru sedang melukis wajah bangsa—wajah pendidikan yang dibentuk oleh dedikasi, kreativitas, dan keberpihakan pada masa depan peserta didik.

Membaca buku ini sama artinya dengan membaca kehidupan itu sendiri, sekaligus membayangkan kehidupan yang akan lahir dari inovasi dan kreativitas pembelajaran yang dihadirkan para guru. Setiap strategi, refleksi, dan praktik yang tertulis membuka kemungkinan lahirnya generasi pembelajar yang lebih kritis, manusiawi, dan berdaya saing.

Bagi saya, keterlibatan dalam bedah buku ini menegaskan satu hal penting: ketika guru menulis, pendidikan tidak lagi berhenti di ruang kelas. Ia bergerak ke ruang publik, menjadi sumber inspirasi, dan ikut menentukan arah wajah bangsa. Inilah makna terdalam dari literasi guru—bukan sekadar aktivitas menulis, melainkan praktik tanggung jawab terhadap masa depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *