25 November 2021
Pada 25 November 2021, bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional, saya berkesempatan mengunjungi SMAN Mutis Naikake, sebuah sekolah yang terletak di lereng Gunung Mutis. Perjalanan menuju Naikake bukan sekadar perpindahan ruang, melainkan pengalaman reflektif yang menyimpan banyak makna.
Bagi siapa pun yang pernah menempuh jalur ini, ingatan akan mudah kembali pada lika-liku perjalanan menuju Naikake. Tentang Jembatan Aplal yang menyimpan kisah kasih dalam penyeberangan. Tentang Bukit Cinta Oelbinose yang menghadirkan kesetiaan dedaunan pada pohon-pohon hijau yang tegak bertahan. Alam seolah menjadi saksi bisu ketekunan, kesabaran, dan kesetiaan—nilai-nilai yang juga hidup dalam dunia keguruan.
Kunjungan ini menjadi titik refleksi yang mendalam di Hari Guru. Ia mengingatkan saya bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan luhur. Di tangan para guru, jati diri bangsa ini dipertaruhkan—bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter, nurani, dan arah masa depan.
Menjadi guru juga adalah sebuah pilihan: pilihan untuk sungguh-sungguh menghayati peran pendidik, atau sekadar menjalani rutinitas. Pilihan untuk hadir sepenuh hati bagi peserta didik, terutama di ruang-ruang yang jauh dari sorotan dan fasilitas.
Lebih dari itu, menjadi guru adalah sebuah mimpi. Bukan hanya mimpi pribadi seorang pendidik, melainkan mimpi-mimpi besar jutaan anak bangsa yang menitipkan harapan pada ruang kelas dan keteladanan. Di sanalah guru menjadi penjaga mimpi, penuntun harapan, dan penopang masa depan.
Menjadi guru juga adalah sebuah cerita kebanggaan. Kebanggaan karena menjadi bagian dari perjalanan prestasi dan keberhasilan generasi penerus bangsa. Kebanggaan yang tidak selalu hadir dalam sorak sorai, tetapi tumbuh diam-diam dalam keberhasilan murid-murid yang kelak melangkah lebih jauh dari gurunya.
Karena itu, pada momentum ini, izinkan saya mengulang seruan sederhana namun mendasar:
Banggalah menjadi guru.
Hormati gurumu.
Cintai gurumu.