Menjuarai Lomba Karya Tulis Nasional: Sebuah Tanggung Jawab

16 Maret 2021

Menjuarai sebuah lomba karya tulis nasional bukanlah sekadar peristiwa kompetisi yang berakhir pada pengumuman pemenang dan penyerahan piagam. Bagi saya, capaian ini justru menghadirkan kesadaran baru: bahwa menulis—terutama dalam konteks pendidikan—selalu mengandung tanggung jawab intelektual dan moral. Tanggung jawab kepada dunia pendidikan, kepada peserta didik, dan kepada publik yang membaca serta mempercayai gagasan yang disampaikan.

Pada 16 Maret 2021, saya dinyatakan sebagai pemenang Kategori Karya Tulis Terfavorit dalam Lomba Karya Tulis yang diselenggarakan oleh Bank BCA bagi guru se-Indonesia Timur. Pengumuman ini disampaikan dalam webinar bertema “Majulah Tenaga Pendidik Indonesia Timur” yang diikuti oleh lebih dari 4.000 guru dari berbagai daerah. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan gagasan, pengalaman, dan praktik pendidikan dari para pendidik yang bekerja dalam konteks dan tantangan yang beragam.

Tulisan yang saya ajukan berjudul “Pendidikan Agama di Masa Pandemi: Teori atau Pandangan Hidup?”. Tulisan ini berangkat dari kegelisahan praksis: bagaimana Pendidikan Agama—khususnya Pendidikan Agama Katolik—tetap relevan dan bermakna di tengah keterbatasan pembelajaran jarak jauh selama pandemi. Bagi saya, pandemi bukan hanya krisis teknis pembelajaran, tetapi juga ujian atas hakikat pendidikan itu sendiri.

Dalam tulisan tersebut, saya menegaskan bahwa Pendidikan Agama tidak boleh direduksi menjadi sekadar kumpulan konsep, dogma, atau hafalan normatif. Pendidikan Agama harus dihayati sebagai pandangan hidup—sebuah proses pembentukan kesadaran, sikap, dan tindakan yang berakar pada nilai-nilai kebaikan dan cinta kasih. Teori hanya menemukan maknanya ketika diterjemahkan dalam praksis hidup peserta didik.

Gagasan ini saya bangun dari pengalaman konkret mengajar selama masa pandemi. Keterbatasan ruang kelas fisik justru memaksa saya untuk merancang strategi pembelajaran yang lebih reflektif, kontekstual, dan dekat dengan realitas hidup siswa. Pembelajaran agama, dalam konteks ini, saya pahami sebagai katekese hidup: proses pendidikan yang membantu peserta didik membaca pengalaman hidupnya sendiri dalam terang nilai-nilai iman, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial.

Penghargaan yang saya terima melalui lomba ini saya maknai bukan sebagai pengakuan personal semata, melainkan sebagai penguatan atas pentingnya praktik pendidikan yang reflektif. Menulis bagi guru bukan aktivitas tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab profesional. Melalui tulisan, praktik pembelajaran diuji secara rasional, dibagikan secara terbuka, dan dipertanggungjawabkan di ruang publik.

Lebih jauh, kemenangan ini mengingatkan saya bahwa setiap gagasan yang ditulis dan dipublikasikan membawa konsekuensi etis. Seorang pendidik yang menulis sedang membentuk cara pandang, mempengaruhi diskursus, dan—secara tidak langsung—ikut menentukan arah pendidikan. Karena itu, menulis harus selalu disertai kejujuran intelektual, keberpihakan pada peserta didik, dan komitmen pada nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai guru, sekaligus pegiat literasi, saya melihat bahwa budaya menulis di kalangan pendidik masih perlu terus diperkuat. Literasi bukan hanya soal kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi juga soal keberanian merefleksikan praktik, mengkritisi kebiasaan, dan menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam pendidikan. Dalam konteks Indonesia Timur, menulis juga menjadi cara untuk menghadirkan suara dari pinggiran ke pusat percakapan nasional.

Akhirnya, menjuarai lomba karya tulis nasional ini saya tempatkan sebagai titik tanggung jawab baru, bukan garis akhir. Tanggung jawab untuk terus belajar, mengajar dengan kesadaran reflektif, dan menulis dengan keberpihakan yang jelas. Sebab pendidikan, pada hakikatnya, bukan tentang siapa yang menang, tetapi tentang bagaimana pengetahuan dan nilai-nilai kebaikan terus dihidupi dan dibagikan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *