14 Februari 2021
Pada 13 Februari 2021, saya berkesempatan membawakan bedah buku Mawar Gaib – Misa Pagi, sebuah karya kumpulan tulisan para seminaris SMA Seminari St. Rafael Oepoi Kupang. Bedah buku ini bukan sekadar forum akademik, melainkan ruang refleksi tentang ingatan, iman, literasi, dan tanggung jawab moral di tengah dunia yang terus berubah.
Ingatan sebagai Dasar Kehidupan
Kata kunci yang saya gunakan dalam bedah buku ini adalah ingatan. Ingatan bukan sekadar memori personal, melainkan fondasi relasi, iman, dan kemanusiaan. Seperti dikatakan Boy Candra, “mencintai adalah merawat ingatan.” Bahkan, seperti ditegaskan Fiersa Besari, ingatan memberi keabadian pada manusia.
Dalam konteks iman Katolik, ingatan memiliki makna sakramental. Ia menghadirkan kembali ajaran Kristus dalam kehidupan nyata. Karena itu, membaca Mawar Gaib – Misa Pagi bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga tindakan spiritual: merawat ingatan akan nilai cinta kasih, pengabdian, dan kebenaran.
Judul sebagai Panggilan Spiritualitas
Judul Mawar Gaib – Misa Pagi menyimpan simbol yang kuat. Misa Pagi merepresentasikan sumber dan puncak hidup umat Katolik, khususnya para seminaris. Sementara Mawar Gaib melambangkan spiritualitas penyerahan diri—sebuah gema dari jawaban Maria: “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”
Judul ini menegaskan bahwa tulisan-tulisan dalam buku tersebut bukan sekadar karya literer, tetapi panggilan untuk mewartakan nilai-nilai Injil: damai, keadilan, dan cinta kasih. Dari menara seminari di Oepoi, suara itu diarahkan kepada dunia yang lebih luas.
Karya Fragmentaris, Pesan yang Utuh
Sebagai karya rumpu-rampe—berisi esai, cerpen, puisi, ulasan, dan artikel lomba—buku ini bersifat fragmentaris. Namun justru dari fragmen-fragmen itulah muncul kekayaan makna. Ada kisah tentang Papua yang sarat konflik, refleksi tentang Oepoli yang baru menikmati jaringan 4G, hingga ulasan kebudayaan Sabu dengan nilai kesetaraan gender dan simbolisme sarung Ei.
Puisi-puisi dalam buku ini juga tampil kuat dan personal. Kata-kata sederhana menjadi jembatan bagi refleksi iman, kemanusiaan, dan harapan. Semua fragmen itu membentuk satu kesatuan pesan: kehidupan selalu layak direnungkan dan dituliskan.
Literasi sebagai Jalan Kepemimpinan
Salah satu pesan utama yang saya tekankan dalam bedah buku ini adalah pentingnya literasi. Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi strategi berpikir kritis dan sistematis. Dalam dunia digital yang dipenuhi arus informasi dan hoaks, literasi menjadi kompas moral dan intelektual.
Para penulis buku ini adalah seminaris—calon pemimpin Gereja dan masyarakat. Karena itu, kemampuan berpikir kritis dan sistematis bukan pilihan, melainkan keharusan. Melalui budaya menulis dan membaca, mereka dilatih untuk memilah informasi, merangkai gagasan, dan bertanggung jawab atas kebenaran.
Penutup: Menulis sebagai Tindakan Bermakna
Mawar Gaib – Misa Pagi adalah buku tentang ingatan—tentang bagaimana manusia belajar memahami realitas, merawat nilai moral, religius, dan budaya, serta membangun kehidupan bersama. Buku ini juga mengingatkan kita akan kekuatan menulis: bahwa dengan menulis, hal-hal yang tak terucapkan menemukan makna; dan yang dipahami menjadi warisan nilai bagi sesama.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, buku ini mengajak kita untuk berhenti sejenak, mengingat, dan berpikir. Sebab dari ingatan yang dirawat, lahir harapan dan tanggung jawab untuk masa depan.