April 2018 | Bangladesh
Pada April 2018, saya mendapat kesempatan untuk mewakili Indonesia dalam sebuah International Youth Conference di Bangladesh yang berfokus pada isu keberagaman, toleransi, dan perdamaian. Forum ini mempertemukan orang-orang muda dari berbagai negara dengan latar belakang budaya, agama, dan sosial yang beragam, untuk berdialog mengenai tantangan kemanusiaan di tingkat global.
Dalam forum tersebut, saya hadir membawa narasi Indonesia sebagai bangsa yang dibangun di atas pluralitas. Keberagaman Indonesia—baik etnis, budaya, bahasa, maupun agama—bukanlah kondisi yang bebas dari tantangan. Namun, justru di situlah letak pembelajaran penting: toleransi bukan sesuatu yang terjadi secara alamiah, melainkan hasil dari proses sosial, pendidikan, dan kesadaran kolektif yang terus diperjuangkan.
Dalam sesi diskusi dan presentasi, saya menekankan bahwa pengalaman Indonesia dalam merawat keberagaman tidak dapat dilepaskan dari peran pendidikan dan masyarakat sipil. Pendidikan menjadi ruang strategis untuk membentuk cara pandang generasi muda terhadap perbedaan—apakah perbedaan dipandang sebagai ancaman, atau sebagai kekayaan yang harus dikelola secara adil dan bermartabat. Toleransi, dalam konteks ini, bukan sekadar nilai normatif, tetapi praktik sosial yang harus dilatih dan dihidupi.
Forum internasional ini juga membuka ruang refleksi kritis bagi saya. Berinteraksi dengan peserta dari berbagai negara memperlihatkan bahwa persoalan intoleransi, radikalisme, dan polarisasi sosial bukanlah masalah lokal semata, melainkan tantangan global. Namun, setiap konteks memiliki jalan penyelesaiannya sendiri. Pengalaman Indonesia menjadi kontribusi penting dalam diskursus global karena menunjukkan bahwa keberagaman dapat dirawat melalui dialog, pendidikan, dan keterlibatan aktif generasi muda.
Keterlibatan saya dalam konferensi ini memperluas wawasan global saya tentang isu toleransi dan perdamaian, sekaligus meneguhkan orientasi pengabdian yang saya hidupi hingga kini. Representasi Indonesia di forum internasional ini tidak saya maknai sebagai pencapaian personal, melainkan sebagai tanggung jawab untuk membawa kembali pembelajaran global ke konteks lokal, khususnya dalam kerja pendidikan dan pendampingan di daerah.
Pengalaman di Bangladesh menjadi salah satu titik penting yang membentuk perspektif profesional saya hari ini: bahwa pembangunan sumber daya manusia harus berpijak pada nilai kemanusiaan universal, namun diwujudkan melalui praktik pendidikan yang kontekstual. Dari panggung global, saya semakin diyakinkan bahwa perubahan yang bermakna justru harus dimulai dari ruang-ruang lokal tempat pendidikan paling membutuhkan kehadiran nyata.